STUDI KASUS : PENGGUNAAN TERAPI NEUROFEEDBACK UNTUK ADHD, AUTISMA, DAN GANGGUAN KECEMASAN
Kata Kunci:
adhd, autis, kecemasan, nerurofeedback, qeegAbstrak
Kelainan fungsi otak dan gangguan mental ataupun masalah psikologis dapat dijelaskan oleh gambaran gelombang otak atau Brainmapping. Gelombang otak yang abnormal pada area otak tertentu dapat dirubah dengan terapi Neurofeedback. Di Indonesia sendiri, masih sulit menemui penelitian yang membahas mengenai penggunaan terapi Neurofeedback terutama di psikologi. Penelitian menggunakan metode studi kasus berdasarkan pengalaman praktik psikologi pada subjek dengan ADHD, Autis, dan gangguan kecemasan. Subjek penelitian ini ada tiga orang yang mewakili setiap gangguan. Tahapan pemeriksaan yang dilakukan yaitu wawancara, Brainmapping, dan Observasi. Kemudian dilanjutkan proses terapi neurofeedback 10-20 sesi tergantung tingkat keparahan dari pemeriksaan Brainmapping. Tujuan penelitian ini adalah mengenalkan terapi neurofeedback sebagai salah satu terapi yang efektif digunakan dalam praktik psikologi klinis. Hasil penelitian ini adalah terapi neurofeedback ini mampu menurunkan atau menaikkan gelombang otak yang abnormal sesuai dengan pemeriksaan Brainmapping. Subjek dengan ADHD yang sebelumnya gelombang Theta di angka 41,92 turun menjadi 10,38 dan gelombang High Beta juga turun dari 8,32 menjadi 3,36 setelah 20 sesi. Subjek dengan ASD yang sebelumnya gelombang High Beta 50,05 turun menjadi 5,49 dan gelombang SMR (Sensory Motor Rhythm) turun dari 21,91 menjadi 6,13. Subjek dengan gangguan kecemasan yang sebelumnya gelombang High Beta di angka 7,45 turun menjadi 4,23 dan gelombang Theta naik dari 14,28 menjadi 17,81. Subjek penelitian menunjukkan perubahan perilaku yang sesuai dengan tujuan terapi.